Sabtu, 28 Februari 2015

kultur pendidikan modern



Membangun Kultur Pendidikan yang Efektif
Para peneliti pendidikan mengakui bahwa sekolah yang efektif secara alami memiliki wajah yang beragam. Uline (1998) misalnya, mengkategorikan kegiatan sekolah yang efektif menjadi dua dimensi, kegiatan yang bersifat ekspresif dan kegiatan yang bersifat instrumental. Kegiatan yang bersifat ekspresif mencakup kepercayaan (trust) dan hubungan yang baik (healthy relationship) di dalam komunitas sekolah. Kepercayaan merupakan pondasi sekolah yang efektif. Kepercayaan juga penting bagi sebuah kerjasama dan komunikasi yang efektif dan merupakan basis hubungan yang produktif. Kegiatan yang bersifat instrumental mencakup suasana yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Seperti komitmen guru dan kemudahannya untuk dihubungi baik oleh siswa maupun sesama personel sekolah,

Dalam redaksi yang berbeda, Creemers (1996), menemukan bahwa sekolah yang efektif berbeda dengan sekolah yang tidak efektif dalam hal berikut; sekolah yang efektif menggunakan waktu dalam belajar secara lebih maksimal, memberikan materi yang terbaru, mendorong siswa untuk praktek secara mandiri, memiliki ekspektasi yang tinggi, menggunakan penguatan (reinforcement) yang positif, sedikitnya gangguan, disiplin yang ketat, suasana yang bersahabat, eksibisi karya siswa, dan kondisi fisik serta tata ruang kelas.

Dalam studinya tentang lingkungan belajar di Pondok Pesantren, Jamaludin (2000) menemukan elemen lingkungan belejar yang tidak jauh berbeda. Terdapat 14 faktor yang mempengaruhi prestasi belajar santri di Pondok Pesantren. Faktor-faktor tersebut dapat dipadatkan menjadi 8, yaitu; (1) penekanan terhadap belajar; (2) kondisi fisik pesantren; (3) otonomi santri; (4) belajar bersama (cooperative learning); (5) ekspektasi belajar; (6) perhatian dan ekspektasi guru; (7) komunikasi antara guru dan orang tua; dan (8) penghargaan dan kepercayaan yang diberikan oleh guru. Setiap lembaga pendidikan, sebagaimana setiap individu dalam sebuah lembaga pendidikan, berbeda satu sama lain. Seperti layaknya manusia, sebuah madrasah atau lembaga memiliki getaran dan jiwa sendiri. Masing-masing mengekspresikan rasa tersendiri yang penting dan berbeda satu sama lainnya. Getaran tersebut berasal dari hubungan interpersonal dalam lingkungan sekolah yang pada gilirannya menciptakan kultur atau budaya sebuah lembaga pendidikan.


Studi tentang sekolah yang efektif membuktikan bahwa kultur atau budaya sebuah sekolah secara fundamental sangat menentukan kualitas sebuah system pendidikan. Pada banyak kasus, kegagalan sejumlah usaha reformasi pendidikan di banyak tempat berkaitan dengan ketiadaan perubahan yang radikal dalam kultur sekolah. Seorang mungkin bertanya, mengapa kultur, dan bukannya struktur? Hal ini karena kultur merupakan jiwa (spirit) sebuah sekolah yang memberi makna terhadap setiap kegiatan kependidikan sekolah tersebut, dan menjadi jembatan antara aktivitas dan hasilnya. Kultur merupakan sintesa antara etika dan rasionalitas, sebuah keadaan yang mengantarkan kita, minimal secara konseptual, melebihi batas-batas kekurangan manusiawi menuju tingkatan kreativitas, seni, dan intelek yang tinggi. Kultur juga merupakan kendaraan (vehicle) untuk mentransmisikan nilai-nilai pendidikan (Cavabagh dan Dellar, 1998). Jika kultur sebuah sekolah lemah, maka ia tidak kondusif bagi perkembangan sekolah. Sebaliknya, kalau kulturnya kuat maka akan menjadi fasilitator penting bagi pengembangan sekolah. Mengapa demikian? Karena restrukturisasi secara hirarkis saja tidak cukup memberikan pengaruh signifikan terhadap pengembangan sekolah. Sebagaimana kompleksnya dunia pendidikan, sebuah usaha reformasi pendidikan menghendaki pendekatan multiperspektif, termasuk perspektif budaya atau kultur.

Secara sosiologis, kultur atau budaya mengacu kepada kebiasaan atau praktek-praktek, karakter-karakter yang merefleksikan kesepakatan-kesepakatan makna, kognisi, symbol, atau pengalaman sebuah kelompok masyarakat. Kultur mencakup cara berpikir, sikap terhadap hidup, dan pola hubungan social antar anggota masyarakat. Ia menyangkut cara seseorang berperilaku, memberi reaksi atau menyikapi sesuatu. Dalam kata-kata yang sederhana kultur merupakan “cara kita melakukan sesuatu di sini” (the way we do things around here).

Secara estetika, kultur berhubungan dengan suatu usaha tanpa henti untuk mencapai sesuatu yang diidealkan. Untuk menciptakan “realitas” ideal tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia. Dalam redaksi yang lain, Arnold melihat kultur sebagai pencarian terhadap kesempurnaan dengan maksud mengetahui apa yang menjadi kepentingan orang banyak.

Dari kedua definisi di atas mengandung makna sebuah proses yang terus menerus tanpa berakhir. Dengan demikian, jika kultur merepresentasikan idealitas manusia, maka ia merupakan sesuatu yang dinamis, makhluk progresif, sebuah potensi yang dapat membawa kepada proses belajar yang tak pernah berakhir, “Long life education”.











Analisa Artikel
Dalam artikel tersebut saya menangkap pengertian bahwa ada perbedaan sekolah yang efektif dan sekolah yang tidak efektif. Saya sangat setuju dengan pendapat pendapat diatas, karena banyak faktor yang mempengaruhi kultur pendidikan pada masa ini. Jika dilihat dari berbagai sudut pandang Semua mengarah pada sisi positif sekolah yang efektif, saya setuju bahwa sekolah yang efektif adalah memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk membimbing anak didiknya hingga mencapai puncak perkembangannya. Bahkan seorang anak didik akan melebihi kemampuan gurunya sehingga sekolah yang efektif adalah sekolah yang mampu menunjukkan kualitasnya sebagai wadah atau sarana yang dapat menjunjung kultur pendidikan yang lebih baik.
Kita dapat mengibaratkan sebuah kegiatan belajar mengajar adalah latihan pementasan sebuah drama. Guru adalah seorang sutradara yang mengatur jalannya cerita sehingga cerita dapat terstruktur dan sesuai dengan alur yang ada pada naskah drama. Guru adalah pengantar atau fasilitator yang ada di dalam kelas, guru tidak perlu menggunakan metode ceramah yang berlebihan terhadap semua anak didiknya. Karena, siswa akan merasa jenuh pada jam jam tengah pelajaran, mungkin bisa saja materi yang disampaikan malah hanya didengar di telinga saja tanpa memahami materi tersebut. Suasana seperti digambarkan sebuah drama akan membawa dampak baik pada perkembangan peserta didik. Anak didik akan belajar secara mandiri untuk memecahkan masalah yang dihadapi, ia akan belajar menjelaskan kepada siswa yang lain apa yang telah ia dapatkan dari pengalamannya mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Guru wajib mengoreksi hasil penjelasan anak didiknya. Sehingga peran guru disini sangat membantu perkembangan anak didik. Dengan hal ini, seorang guru harus terampil dalam memilih metode metode yang akan digunakan mengajar pada esok hari sehingga kegiatan belajar mengajar ini akan menarik perhatian siswa di kelas setiap harinya.
Dari ilustrasi di atas, banyak kesimpulan yang dapat diambil. Salah satunya adalah kultur pendidikan yang baik bukan saja didorong oleh sekolah yang efektif melainkan dihasilkan oleh guru guru yang memiliki potensi mengajar yang baik dan tingkah laku yang baik pula. Kultur pendidikan akan dikenakan secara turun temurun dan berkelanjutan. Nasib bangsa ini baik atau tidaknya bergantung pada generasi penerusnya. Proses belajar yang baik adalah tanpa memandang status sosial, semua anak didik mempunyai hak yang sama untuk memperoleh perlakuan yang baik dari gurunya. Jadi seorang guru tidak boleh membeda bedakan muridnya satu sama lain. Meskipun guru ada masalah dengan atasannya atau dengan yang lainnya jangan mencampur adukkan saat jam pelajaran berlangsung. Maka, Agar guru dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik maka harus dilengkapi fasilitasnya, sehingga semua tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang baik, dapat kita berpedoman pada guru. Seperti pepatah “guru digugu lan ditiru” guru itu diperhatikan atau didengarkan nasihatnya dan ditiru tingkah lakunya oleh anak didiknya.
Sumber : http://membumikan-pendidikan.blogspot.com/2014/05/membangun-kultur-pendidikan-yang-efektif.html

Kamis, 20 November 2014

motivasi



Aplikasi teori kognitif terhadap pembelajaran siswa
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal. Misi dari pemerolehan pengetahuan melalui strategi pembelajaran kognitif adalah kemampuan memperoleh, menganalisis dan mengolah informasi dengan cermat serta kemampuan pemecahan masalah. Menurut teori kognitif, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya.
Ciri – ciri pembelajaran dalam pandangan kognitif adalah sebagai berikut,
1.      Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
2.      Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara
3.      Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep siswa melalui kenyataan kehidupan sehari hari
4.      Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transimisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya, interaksi dan kerjasama antara kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa.
5.      Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif
6.      Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga siswa menjadi menarik dan siswa mau belajar.
Prinsip teori pembelajaran kognitif:
  1. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
  2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda kongkrit.
  3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena dengan hanya mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
  4. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan setruktur kognitif yang telah dimiliki si belajar.
  5. Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.
  6. Belajar memahami akan lebih bermaknsa daripada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dandihubungkan dengan pengetahuan yang telahdimiliki siswa. Tugas guru adalah menunjukkan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa.
  7. Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajra siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi, persepsi, kemampuan berpikir, pengetahuan awal, dan sebagainya.

Tytler (1996:20) menyarankan rancangan pembelajaran sebagai berikut:
1.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri
2.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir tentang pengalamannya sehingga menjadi kreatif dan imajinatif
3.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru
4.      Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa
5.      Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka
6.      Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif

A.   Belajar Bermakna David P. Ausubel 
Teori belajar Ausubel menitikberatkan  pada bagaimana seseorang memperoleh pengetahuannya. Menurut Ausubel terdapat  dua jenis belajar yaitu belajar hafalan (rote-learning) dan belajar bermakna (meaningful-learning).
aa)      Belajar Hapalan
Materi dalam pelajaran matematika bukanlah pengetahuan yang terpisah-pisah namun merupakan satu kesatuan, sehingga pengetahuan yang satu dapat berkait dengan pengetahuan yang lain. Seorang anak tidak akan mengerti penjumlahan dua bilangan jika ia tidak tahu arti dari “1” maupun “2”. Ia harus tahu bahwa “1” menunjuk pada banyaknya sesuatu yang tunggal seperti  banyaknya kepala, mulut, lidah dan seterusnya; sedangkan “2” menunjuk pada  banyaknya sesuatu yang berpasangan seperti banyaknya mata, telinga, kaki, … dan seterusnya. Sering terjadi, anak kecil salah menghitung sesuatu. Tangannya masih  ada di batu ke-4 namun ia sudah mengucapkan “lima” atau malah “enam”. Kesalahan kecil seperti  ini akan berakibat pada kesalahan menjumlah dua bilangan. Hal yang lebih parah akan terjadi jika ia masih sering meloncat-loncat di saat membilang dari satu sampai sepuluh.
bb)      Belajar Bermakna
Agar proses mengingat bilangan kedua dapat bermakna, maka proses mengingat bilangan kedua (yang baru) harus dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki, yaitu tentang 17-08-1945 akan tetapi dengan membalik urutan penulisannya menjadi 5491-80-71.Untuk bilangan pertama, yaitu 89.107.145. Bilangan ini hanya akan bermakna jika bilangan itu dapat dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada di dalam pikiran kita. Contohnya jika bilangan itu berkait dengan nomor telepon atau nomor lain yang dapat kita kaitkan. Tugas guru adalah  membantu memfasilitasi siswa sehingga bilangan pertama tersebut dapat dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Jika seorang siswa tidak dapat mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa, maka proses pembelajarannya disebut dengan belajar yang tidak bermakna (rote learning).
 Itulah inti dari belajar bermakna (meaningful learning) yang telah digagas David P Ausubel.  Di samping itu, seorang guru dituntut untuk mengecek, mengingatkan kembali ataupun memperbaiki pengetahuan prasyarat siswanya sebelum ia memulai membahas topik baru, sehingga pengetahuan yang baru tersebut dapat berkait dengan pengetahuan yang lama yang lebih dikenal sebagai belajar bermakna tersebut. 
2. Teori Belajar Bruner 
Menurut Bruner, ada tiga tahap belajar, yaitu enaktif, ikonik dan simbolik.Berbeda dengan Teori Belajar Piaget yang telah membagi perkembangan kognitif seseorang atas empat tahap berdasar umurnya, maka Bruner membagi penyajian proses pembelajaran dalam tiga tahap, yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik.
 Bruner  memusatkan perhatian pada masalah apa yang dilakukan manusia terhadap informasi diterimanya dan apa yang dilakukan setelah menerima informasi tersebut untuk pemahaman dirinya.
 a). Tiga Tahap Proses Belajar
Teori Bruner tentang tiga tahap proses belajar berkait dengan tiga tahap yang harus dilalui siswa agar proses pembelajarannya menjadi optimal, sehingga akan terjadi internalisasi pada diri siswa, yaitu suatu keadaan dimana pengalaman yang baru dapat menyatu ke dalam struktur kognitif mereka. Ketiga tahap pada proses belajar tersebut adalah:
1.      Tahap Enaktif.
Pada tahap ini, pembelajaran yang dilakukan dengan cara memanipulasi obyek secara aktif. Contohnya, ketika akan membahas penjumlahan dan pengurangan di awal pembelajaran, siswa dapat belajar dengan menggunakan batu, kelereng, buah, lidi, atau dapat juga memanfaatkan beberapa model atau alat peraga lainnya. Ketika belajar penjumlahan dua bilangan bulat, para siswa dapat saja memulai proses pembelajarannya dengan menggunakan beberapa benda nyata sebagai “jembatan”  atau dengan menggunakan obyek langsung.
2.Tahap Ikonik
Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret atau situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif tersebut di atas (butir a). Bahasa menjadi lebih penting sebagai suatu media berpikir. Kemudian seseorang mencapai masa transisi dan menggunakan  penyajian ikonik yang didasarkan pada pengindraan kepenyajian simbolik yang didasarkan pada berpikir abstrak.
3.Tahap Simbolik
Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbul-simbul atau lambang-lambang objek tertentu. Anak tidak lagi terikat dengan objek-objek seperti pada tahap sebelumnya. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil. Pada tahap simbolik ini, pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract symbols), yaitu simbol-simbol arbiter yang
dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain.
b).  Empat Teorema Belajar dan Mengajar
Meskipun pepatah Cina menyatakan “Satu gambar sama nilainya dengan seribu kata”, namun menurut Bruner, pembelajaran sebaiknya dimulai dengan menggunakan benda nyata lebih dahulu. Karenanya, seorang guru ketika mengajar matematika hendaknya menggunakan model atau benda nyata untuk topik-topik tertentu yang dapat membantu pemahaman siswanya. Bruner mengembangkan  empat teori yang terkait dengan asas peragaan, yakni:
1.  Teorema konstruksi menyatakan bahwa siswa lebih mudah memahami ide-ide abstrak dengan menggunakan peragaan kongkret (enactive) dilanjutkan ke tahap semi kongkret (iconic) dan diakhiri dengan tahap abstrak (symbolic). Dengan menggunakan tiga tahap tersebut, siswa dapat mengkonstruksi suatu representasi dari konsep atau prinsip yang sedang dipelajari.
2.  Teorema notasi menyatakan bahwa simbol-simbol abstrak harus dikenalkan secara bertahap, sesuai dengan tingkat perkembangan kognitifnya. Sebagai contoh:
1.  Notasi 3×2 dapat dikaitkan dengan 3×2 tablet.
2.  Soal seperti ... + 4 = 7 dapat diartikan  sebagai menentukan bilangan yang kalau ditambah 4 akan menghasilkan 7. Notasi yang baru adalah 7 − 4 = ... .
3.  Teorema kekontrasan atau variasi  menyatakan bahwa konsep matematika dikembangkan melalui beberapa contoh dan bukan contoh seperti yang ditunjukkan gambar di bawah ini tentang contoh dan bukan contoh pada konsep trapesium. 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipgEE3lVRw5gF1R4A2vZtH66bbsS6mYNSnoWjRS7Xg96Y2j5det0y268vF9wMvC78SvH-zZSklz7mDvkvgIOKKkg6oQQcloA0BvtTNPZbVUW2t5_MAQhAoIO3_kdCyqNdWjiDG5uzN9q78/s400/Picture1.png
4.  Teorema konektivitas menyatakan bahwa konsep tertentu harus dikaitkan dengan konsep-konsep lain yang relevan. Sebagai contoh, perkalian dikaitkan dengan luas persegi panjang dan penguadratan dikaitkan dengan luas persegi. Penarikan akar pangkat dua dikaitkan dengan menentukan panjang sisi suatu persegi jika luasnya diketahui.
Lebih lanjut, berbagai jenis kegiatan dalam pembelajaran yang menerapkan teorema- teorema Bruner dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale dalam bukunya “Audio Visual Methods in Teaching” sebagaimana dikutip Heinich, Molenda, dan Russell (1985:4) sebagai berikut,
1.  Pengalaman langsung. Artinya, siswa diminta untuk mengalami, berbuat sendiri dan mengolah, serta merenungkan apa yang dikerjakan.
2.  Pengalaman yang diatur. Sebagai contoh dalam membicarakan sesuatu benda, jika benda tersebut terlalu besar atau kecil, atau tidak dapat dihadirkan di kelas maka benda tersebut dapat diragakan dengan model. Contohnya: peta, gambar benda-benda yang tidak mungkin dihadirkan di kelas, model kubus, dan kerangka balok,
3.  Dramatisasi. Misalnya: permainan peran, sandiwara boneka yang bisa digerakkan ke kanan atau ke kiri pada garis bilangan.
4.  Demonstrasi. Biasanya dilakukan dengan menggunakan alat-alat bantu seperti papan tulis, papan flanel, OHP dan  program komputer. Banyak topik dalam pembelajaran matematika di SD yang dapat diajarkan melalui demonstrasi, misalnya: penjumlahan, pengurangan, dan pecahan.
5.  Karyawisata. Kegiatan ini sebenarnya sangat baik untuk menjadikan matematika sebagai atau menjadi pelajaran yang  disenangi siswa. Kegiatan yang diprogramkan dengan melibatkan penerapan konsep matematika seperti mengukur tinggi objek secara tidak langsung, mengukur lebar sungai, mendata kecenderungan kejadian dan realitas yang ada di lingkungan merupakan kegiatan yang sangat menarik dan sangat bermakna  bagi siswa serta bagi daya tarik pelajaran matematika di kalangan siswa. 
6.  Pameran. Pameran adalah usaha menyajikan berbagai bentuk model-model kongkret yang dapat digunakan untuk membantu memahami konsep matematika dengan cara yang menarik. Berbagai bentuk permainan matematika ternyata dapat menyedot perhatian siswa untuk mencobanya, sehingga jenis kegiatan ini juga cukup bermakna untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika.
7. Televisi sebagai alat peragaan. Program pendidikan matematika yang disiarkan melalui media TV juga merupakan alternatif yang sangat baik untuk pembelajaran matematika.
8.  Film sebagai alat peraga
9.  Gambar sebagai alat peraga
Dengan demikian jelaslah bahwa asas peragaan dalam bentuk enaktif dan ikonik selama pembelajaran matematika adalah sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan daya tarik siswa dalam mempelajari matematika sebelum mereka menggunakan bentuk-bentuk simbolik.

Minggu, 05 Oktober 2014

apa saja yang harus di lakukan menjelang AFTA



Menurut saya Ada segi positif dan ada segi negatif adanya AFTA 2015 mendatang, kurang beberapa bulan lagi indonesia harus masuk menjadi anggota pasar bebas. Hal ini tidaklah mudah untuk SDM di Indonesia, banyak yang perlu dibenahi untuk menyambut AFTA.
Sebenarnya menurut saya banyak segi negatif nya dengan masuknya pasar bebas di Indonesia.dalam berbagai bidang, Indonesia banyak dirugikan oleh negara lain. Dalam bidang ketenagakerjaan akan membawa dampak negatif untuk generasi muda yang akan bersaing dengan warga asing yang masuk ke Indonesia. Perusahaan akan lebih memilih warga asing yang berasal dari negara lain sehingga warga lokal sendiri malah menjadi pengangguran. Untuk yang bekerja sebagai buruh haruslah mempersiapkan diri untuk bersaing dengan tenaga kerja dari luar negeri agar kita tidak tergeser oleh mereka. dalam bidang kebudayaan, akan masuk budaya-budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Dalam bidang teknologi, Indonesia akan menjadi pusat perbelanjaan saja karena negara ini menjadi sasaran empuk negara lain untuk mengeksport barang-barangnya. Seperti yang kita ketahui, tidak ada barang elektronik yang bertuliskan made in Indonesia, pasti made in china, made in korea. Tidak ada rasa bangga dari warga lokal untuk membeli barang yang benar-benar produk dalam negeri.
Di sisi lain, ada juga pengaruh positif dari AFTA. Dalam berbagai bidang akan membawa pengaruh baik untuk kemajuan Indonesia. Seperti halnya kegiatan eksport import, kegiatan ini akan mempermudah bangsa ini untuk memperkenalkan hasil produksi ke negara lain dengan bebas dan tanpa biaya. Semua siswa atau pelajar bisa dengan mudah meraih prestasi gemilang di negara lain misalnya singapura. Dalam bidang pariwisata, AFTA akan menjadi jembatan agar keindahan alam dan objek wisata dapat dikenal oleh negara ASEAN dengan mudah. Saatnya menjajah bangsa lain agar tidak tejajah lagi, dengan ini berarti kita harus meningkatkan daya saing dan berasal dari SDM Indonesia sendiri. Cara meningkatkan daya saing tidaklah mudah, tapi dengan kesabaran dan optimis maka tidak mustahil Indonesia akan menjadi macan asia. Dengan keramahtamahannya Indonesia adalah negara terkaya akan bangsa yang baik dan sopan.
Intinya siap atau tidak siap, Indonesia harus mengakui keadaan bahwa pada ditahun mendatang akan masuk adanya pasar bebas, dan persaingan ketat antar SDM dilakukan secara besar-besaran oleh berbagai pihak. Hal ini dikarenakan bahwa bangsa Indonesia tidak ingin kedudukannya di negara ini tergeser oleh warga asing. Bangsa Indonesia harus menjadi tuan rumah yang akan terus menjaga kedudukannya. Semua manusia itu sama dan berkedudukan tinggi asalkan ia mau berusaha bersaing dan menjadi yang terdepan tapi tidak meninggalkan norma-norma yang ada. Jangan sampai terpengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.