Sabtu, 28 Februari 2015

kultur pendidikan modern



Membangun Kultur Pendidikan yang Efektif
Para peneliti pendidikan mengakui bahwa sekolah yang efektif secara alami memiliki wajah yang beragam. Uline (1998) misalnya, mengkategorikan kegiatan sekolah yang efektif menjadi dua dimensi, kegiatan yang bersifat ekspresif dan kegiatan yang bersifat instrumental. Kegiatan yang bersifat ekspresif mencakup kepercayaan (trust) dan hubungan yang baik (healthy relationship) di dalam komunitas sekolah. Kepercayaan merupakan pondasi sekolah yang efektif. Kepercayaan juga penting bagi sebuah kerjasama dan komunikasi yang efektif dan merupakan basis hubungan yang produktif. Kegiatan yang bersifat instrumental mencakup suasana yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Seperti komitmen guru dan kemudahannya untuk dihubungi baik oleh siswa maupun sesama personel sekolah,

Dalam redaksi yang berbeda, Creemers (1996), menemukan bahwa sekolah yang efektif berbeda dengan sekolah yang tidak efektif dalam hal berikut; sekolah yang efektif menggunakan waktu dalam belajar secara lebih maksimal, memberikan materi yang terbaru, mendorong siswa untuk praktek secara mandiri, memiliki ekspektasi yang tinggi, menggunakan penguatan (reinforcement) yang positif, sedikitnya gangguan, disiplin yang ketat, suasana yang bersahabat, eksibisi karya siswa, dan kondisi fisik serta tata ruang kelas.

Dalam studinya tentang lingkungan belajar di Pondok Pesantren, Jamaludin (2000) menemukan elemen lingkungan belejar yang tidak jauh berbeda. Terdapat 14 faktor yang mempengaruhi prestasi belajar santri di Pondok Pesantren. Faktor-faktor tersebut dapat dipadatkan menjadi 8, yaitu; (1) penekanan terhadap belajar; (2) kondisi fisik pesantren; (3) otonomi santri; (4) belajar bersama (cooperative learning); (5) ekspektasi belajar; (6) perhatian dan ekspektasi guru; (7) komunikasi antara guru dan orang tua; dan (8) penghargaan dan kepercayaan yang diberikan oleh guru. Setiap lembaga pendidikan, sebagaimana setiap individu dalam sebuah lembaga pendidikan, berbeda satu sama lain. Seperti layaknya manusia, sebuah madrasah atau lembaga memiliki getaran dan jiwa sendiri. Masing-masing mengekspresikan rasa tersendiri yang penting dan berbeda satu sama lainnya. Getaran tersebut berasal dari hubungan interpersonal dalam lingkungan sekolah yang pada gilirannya menciptakan kultur atau budaya sebuah lembaga pendidikan.


Studi tentang sekolah yang efektif membuktikan bahwa kultur atau budaya sebuah sekolah secara fundamental sangat menentukan kualitas sebuah system pendidikan. Pada banyak kasus, kegagalan sejumlah usaha reformasi pendidikan di banyak tempat berkaitan dengan ketiadaan perubahan yang radikal dalam kultur sekolah. Seorang mungkin bertanya, mengapa kultur, dan bukannya struktur? Hal ini karena kultur merupakan jiwa (spirit) sebuah sekolah yang memberi makna terhadap setiap kegiatan kependidikan sekolah tersebut, dan menjadi jembatan antara aktivitas dan hasilnya. Kultur merupakan sintesa antara etika dan rasionalitas, sebuah keadaan yang mengantarkan kita, minimal secara konseptual, melebihi batas-batas kekurangan manusiawi menuju tingkatan kreativitas, seni, dan intelek yang tinggi. Kultur juga merupakan kendaraan (vehicle) untuk mentransmisikan nilai-nilai pendidikan (Cavabagh dan Dellar, 1998). Jika kultur sebuah sekolah lemah, maka ia tidak kondusif bagi perkembangan sekolah. Sebaliknya, kalau kulturnya kuat maka akan menjadi fasilitator penting bagi pengembangan sekolah. Mengapa demikian? Karena restrukturisasi secara hirarkis saja tidak cukup memberikan pengaruh signifikan terhadap pengembangan sekolah. Sebagaimana kompleksnya dunia pendidikan, sebuah usaha reformasi pendidikan menghendaki pendekatan multiperspektif, termasuk perspektif budaya atau kultur.

Secara sosiologis, kultur atau budaya mengacu kepada kebiasaan atau praktek-praktek, karakter-karakter yang merefleksikan kesepakatan-kesepakatan makna, kognisi, symbol, atau pengalaman sebuah kelompok masyarakat. Kultur mencakup cara berpikir, sikap terhadap hidup, dan pola hubungan social antar anggota masyarakat. Ia menyangkut cara seseorang berperilaku, memberi reaksi atau menyikapi sesuatu. Dalam kata-kata yang sederhana kultur merupakan “cara kita melakukan sesuatu di sini” (the way we do things around here).

Secara estetika, kultur berhubungan dengan suatu usaha tanpa henti untuk mencapai sesuatu yang diidealkan. Untuk menciptakan “realitas” ideal tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia. Dalam redaksi yang lain, Arnold melihat kultur sebagai pencarian terhadap kesempurnaan dengan maksud mengetahui apa yang menjadi kepentingan orang banyak.

Dari kedua definisi di atas mengandung makna sebuah proses yang terus menerus tanpa berakhir. Dengan demikian, jika kultur merepresentasikan idealitas manusia, maka ia merupakan sesuatu yang dinamis, makhluk progresif, sebuah potensi yang dapat membawa kepada proses belajar yang tak pernah berakhir, “Long life education”.











Analisa Artikel
Dalam artikel tersebut saya menangkap pengertian bahwa ada perbedaan sekolah yang efektif dan sekolah yang tidak efektif. Saya sangat setuju dengan pendapat pendapat diatas, karena banyak faktor yang mempengaruhi kultur pendidikan pada masa ini. Jika dilihat dari berbagai sudut pandang Semua mengarah pada sisi positif sekolah yang efektif, saya setuju bahwa sekolah yang efektif adalah memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk membimbing anak didiknya hingga mencapai puncak perkembangannya. Bahkan seorang anak didik akan melebihi kemampuan gurunya sehingga sekolah yang efektif adalah sekolah yang mampu menunjukkan kualitasnya sebagai wadah atau sarana yang dapat menjunjung kultur pendidikan yang lebih baik.
Kita dapat mengibaratkan sebuah kegiatan belajar mengajar adalah latihan pementasan sebuah drama. Guru adalah seorang sutradara yang mengatur jalannya cerita sehingga cerita dapat terstruktur dan sesuai dengan alur yang ada pada naskah drama. Guru adalah pengantar atau fasilitator yang ada di dalam kelas, guru tidak perlu menggunakan metode ceramah yang berlebihan terhadap semua anak didiknya. Karena, siswa akan merasa jenuh pada jam jam tengah pelajaran, mungkin bisa saja materi yang disampaikan malah hanya didengar di telinga saja tanpa memahami materi tersebut. Suasana seperti digambarkan sebuah drama akan membawa dampak baik pada perkembangan peserta didik. Anak didik akan belajar secara mandiri untuk memecahkan masalah yang dihadapi, ia akan belajar menjelaskan kepada siswa yang lain apa yang telah ia dapatkan dari pengalamannya mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Guru wajib mengoreksi hasil penjelasan anak didiknya. Sehingga peran guru disini sangat membantu perkembangan anak didik. Dengan hal ini, seorang guru harus terampil dalam memilih metode metode yang akan digunakan mengajar pada esok hari sehingga kegiatan belajar mengajar ini akan menarik perhatian siswa di kelas setiap harinya.
Dari ilustrasi di atas, banyak kesimpulan yang dapat diambil. Salah satunya adalah kultur pendidikan yang baik bukan saja didorong oleh sekolah yang efektif melainkan dihasilkan oleh guru guru yang memiliki potensi mengajar yang baik dan tingkah laku yang baik pula. Kultur pendidikan akan dikenakan secara turun temurun dan berkelanjutan. Nasib bangsa ini baik atau tidaknya bergantung pada generasi penerusnya. Proses belajar yang baik adalah tanpa memandang status sosial, semua anak didik mempunyai hak yang sama untuk memperoleh perlakuan yang baik dari gurunya. Jadi seorang guru tidak boleh membeda bedakan muridnya satu sama lain. Meskipun guru ada masalah dengan atasannya atau dengan yang lainnya jangan mencampur adukkan saat jam pelajaran berlangsung. Maka, Agar guru dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik maka harus dilengkapi fasilitasnya, sehingga semua tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang baik, dapat kita berpedoman pada guru. Seperti pepatah “guru digugu lan ditiru” guru itu diperhatikan atau didengarkan nasihatnya dan ditiru tingkah lakunya oleh anak didiknya.
Sumber : http://membumikan-pendidikan.blogspot.com/2014/05/membangun-kultur-pendidikan-yang-efektif.html